Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran
dihadapi oleh dirinya sendiri maupun orang lain; CGP mampu bersikap reflektif, kritis, kreatif, dan terbuka dalam menganalisis dilema tersebut, memilih dan memahami 3 (tiga) prinsip yang dapat dilakukan untuk membuat keputusan dalam dilema pengambilan keputusan dan menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang diambil dalam dilema pengambilan keputusan; CGP bersikap reflektif, kritis, dan kreatif dalam proses tersebut.
Sebagai
seorang pemimpin pembelajaran, Anda pasti sering dihadapkan dalam situasi di
mana Anda diharuskan mengambil suatu keputusan. Namun, seberapa sering
keputusan tersebut melibatkan kepentingan dari masing-masing pihak yang
sama-sama benar, tapi saling bertentangan satu dengan yang lain?
Bagaimana pengalaman Anda dalam
menghadapi situasi seperti ini? Pemikiran-pemikiran seperti apa yang melandasi
pengambilan keputusan Anda? Kemudian, setelah mengambil keputusan tersebut,
pernahkah Anda menjadi ragu-ragu dan menanyakan diri Anda sendiri apakah
keputusan yang diambil telah tepat, ada perasaan tidak nyaman dalam diri Anda,
atau timbul pemikiran mengganjal dalam diri Anda seperti, ‘Apakah ini sesuai
peraturan?’ atau ‘Bagaimana panutan saya akan berlaku dalam hal seperti ini?’
Prinsip Pengambilan Keputusan
3 prinsip dilemma
etika (Rumswoth Kyder)
Tanpa kita sadari kita
sdh snagat mengenal/menangani prinisip ini yangs erring kali kita gunakan
sampai kita tidak perlu untuk melakukannya, mhkn anda melakukannanya. Saya
lakukan Karen itu yang terbaik utk kebanyakan orang yang selanjutnyakita kenal
dengan berpikir bebaasis akhir ikuti aturan auran yang ditetapkan (rule based
thingking), memutuskan sesuatu.
1.
Prinsip moral berpikir hasil akhir (Ends-Based
Thingking)
Proses berpikir ini berpijak pada aliran utilitarisme yaitu mengerjakan apa yg dapat menghasilkan kebaikan utk jumlah orang banyak. Pemikiran ini senantiasa mengukur /menguji koonsekuensi dari suatu keputusan dengan memperkirakan hasil yang akan diharapkan memberikan kebahagiaan terbaik untuk orang banyak. Prinsip moral berpatokan pada kepentingan intitusi dan bukan kepentingan individu. Pada perkembangannnya prinsip ini mendapat kritik dari kalanagn masyarakat.
Kritik terhadap prinsip ini adalah
“Manusia pada dasarnya tidak bisa mempreiksi semua akbiat/konsekuensi dari setiap keputusan atau tindakan-tindakannya, unutk melihat semua konsekuensi dari perilaku seorang individu saja belum tentu bisa, lebih-lebih konsekuensi dari tindakan sebuah masyarakat”
Contoh :
Saat manusia membangun
reactor nuklir apakah mereka memikirkan bagaimana sebaiknya pembuangan limbah
dari reactor nuklir tersebut .
2.
Bagi para Ahli fisafat ini selalu disebut dengan prinsip Deontologis yang berasal dari bahasa yunani “Deon” yang berarti tugas atau kewajiban. Sehingga Prinsip dilema etika ini bukan berpusat pada konsekuensi atau hasil akhir namun berpusat pada apa tugas kita apa kewajiban yang patut akan kita lakukan. Seseorang akan bertindak sesuai peraturan yang berlaku dan orang tersebut menginginkan orang lain bertindak sesuai dirinya.
Kritik terhadap prinsip
ini adalah :
“pada penerapannya, prisnip ini dianggap berlaku terlalu kaku
dan mengabaikan keberagaman individualitas manusia. Bahwa mereka tidak terlalu
memperdulikan hasil yang akan didapat namun lebih focus kepada prinsip atau
ukuran dasar yang diyakini. Selalu berpatokan pada “sudah menjadi tugas atau
kewajiban”
Dengan
demikian bisa jadi peraturan itu sendiri yang salah secara prinsip, sehingga
ketika seseorang menggunakan pengambilan keputusan berdasarkan peraturan dia
sedang melakukan kesalahan ganda.
Contoh :
bagaimana jika seorang anak telah diwajibkan kepada orang tuanya dan dialarang keluar
utnuk alasan apapun. Namun bagaimana jika hari itu hujan deras dan melihat
ayahnya naik motor dan terjatuh di depan motor. Bagaimana anak tersebut apa
yang akan dilakukannya, apakah akan membiarkan ayahhnya dan membairkannya tanpa
ada yang membantu?
3.
Berpikir berbasis rasa peduli(Care-Based Thingking)
Prinsip
ini dikenal sebagai aturan emas dan telah memainkan peran kunci dalam
pembelajaran dihampir semua pengajaran budaya dan agama. Untuk selanjutnya
prinsip ini memainkan peran kunci pada pendidikan etika, lebih penting lagi
berpikir berbasis rasa peduli selain memberikan batasan-batasan pada tindakan
kita namun juga mendukung agar diri kita memikirkan kepentingan orang lain.
Prinsip ini banyak melibatkan empati seseorang terhadap pihak lain. Seandianya saya
sada diposisi dia apa yang akan saya lakukan.
Kritik terhadap prinsip
ini adalah
“prinsip ini terllau sederhana untuk dianggap sebagai salah
satu prinsip etika yang utama. Prinsip ini tidak memberikan pilihan khusus atau
menunjan nilai-nilai kebajikan yang dieal. Prinsip ini gagal memberikan contoh
kebajikan, seandainya situasinya melibatkan kedua belah pihak yang sama-sama
melakukan tindakan yang kurang terpuji.”
Contoh
prinsip ini :
Dua sahabat yangs sama sama menyonetk di tes. Salah satu ditanya oleh guru apakah melihat sahabantnya menyontek? Berpikir bahwa saya tidak akan mengadukan sahabat saya sehingga tidak berkata dengan jujur karena dengan beranggapan sahabtanya tidak akan mengadukannya
Sebagai
seorang pemimpin pembelajaran, Anda harus memastikan bahwa keputusan yang Anda
ambil adalah keputusan yang tepat. Oleh karena itu perlu dilakukan
pengujian untuk melihat apakah keputusan tersebut telah sesuai dengan
prinsip-prinsip dasar pengambilan keputusan secara etis.
9 langkah Pengambilan
Keputusan
Di
bawah ini adalah 9 langkah yang telah disusun secara berurutan untuk memandu
Anda dalam mengambil keputusan dalam situasi dilema etika yang luar biasa
karena adanya beberapa nilai-nilai yang bertentangan.
Langkah 1.
Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam
situasi ini.
Ada
2 alasan mengapa langkah ini adalah langkah yang penting dalam pengujian
keputusan. Alasan yang pertama, langkah ini mengharuskan kita untuk
mengidentifikasi masalah yang perlu diperhatikan, alih-alih langsung mengambil
keputusan tanpa yang lebih saksama. Alasan kedua adalah karena langkah ini
akan membuat kita menyaring masalah yang betul-betul berhubungan dengan aspek
moral, bukan masalah yang berhubungan dengan sopan santun dan norma
sosial. Untuk terima kasih hal ini hal yang mudah. Kalau kita terlalu
berlebihan dalam menerapkan langkah ini, dapat membuat kita menjadi orang yang
terlalu mendewakan aspek moral, sehingga kita akan mempermasalahkan setiap
kesalahan yang paling kecil pun. Malah jika kita terlalu permisif, maka
kita bisa menjadi apatis dan tidak bisa memahami aspek-aspek permasalahan etika
lagi.
Langkah 2.
Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.
Bila
kita telah menyatakan bahwa masalah moral dalam situasi
tertentu. Pertanyaannya adalah dilema siapakah ini? Hal yang tidak
pantas diterbitkan apakah pertanyaan ini dilema saya atau bukan. Karena
dalam masalah moral, kita semua seharusnya merasa terpanggil.
Langkah 3
Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.
Pengambilan
keputusan yang baik membutuhkan data yang lengkap dan detail, seperti misalnya
apa yang terjadi di awal situasi tersebut, bagaimana hal itu terkuak, dan apa
yang akhirnya terjadi, siapa yang berkata apa pada siapa, kapan mereka
mengatakannya. Data-data tersebut penting untuk kita ketahui karena dilema
etika tidak, hal-hal yang bersifat teori, namun ada faktor-faktor pendorong dan
penarik yang nyata di mana data yang mendetail akan bisa menggambarkan alasan
seseorang melakukan sesuatu dan kepribadian seseorang akan memahami situasi
tersebut . Hal yang juga penting di sini adalah analisis terhadap hal-hal
apa saja yang potensial akan terjadi pada waktu yang akan datang.
Langkah 4
Pengujian benar atau salah
o Uji Legal
Pertanyaan yang harus diajukan disini adalah apakah dilema etika itu berurusan dengan hukum. Bila jawaban adalah iya, maka pilihan yang ada yang ditulis antara lawan benar, namun antara lawan salah. Pilihannya menjadi keputusan yang mematuhi hukum atau tidak, keputusan yang berhubungan dengan moral.
o Uji Regulasi / Standar Profesional
Bila dilema etika tidak memiliki aspek keselamatan hukum di dalamnya, mungkin ada peraturan atau kode etik. Konflik yang terjadi pada seorang wartawan yang harus melindungi sumber beritanya, seorang agen real estate yang tahu bahwa seorang calon pembeli potensial sebelumnya telah dihubungi oleh koleganya? Anda tidak bisa melakukan karena melanggar kode etik profesi Anda, tapi Anda akan kehilangan respek sehubungan dengan profesi Anda.
o Uji Intuisi
Langkah ini mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi Anda dalam merasakan apakah ada yang salah dalam situasi ini. Apakah tindakan ini mengandung hal-hal yang akan membuat Anda merasa dicurigai. Uji intuisi ini akan mempertanyakan apakah tindakan ini sejalan atau berlawanan dengan nilai-nilai yang Anda yakini. Walaupun mungkin Anda tidak bisa dengan jelas dan langsung menunjuk permasalahannya ada di mana. Langkah ini, untuk banyak orang, sangat umum dan dapat diandalkan untuk melihat dilema etika yang melibatkan dua nilai yang sama-sama benar.
o Uji Halaman Depan Koran
Apa
yang Anda akan rasakan bila keputusan ini dipublikasikan pada halaman depan
dari koran dan sesuatu yang Anda anggap merupakan ranah pribadi Anda tiba-tiba
menjadi konsumsi masyarakat? Bila Anda merasa tidak nyaman membayangkan
hal itu akan terjadi, kemungkinan besar Anda sedang menghadapi dilema etika.
o Uji Panutan / Idola
Dalam
langkah ini, Anda akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh seseorang yang
merupakan panutan Anda, misalnya ibu Anda. Tentunya di sini fokusnya
keputusan yang diambil pada ibu Anda, namun apa yang kira-kira akan beliau
ambil, karena beliau adalah orang yang menyayangi Anda dan orang yang sangat
berarti bagi Anda.
Yang
perlu diambil dari kelima uji keputusan tadi, ada tiga uji yang sejalan dengan
pengambilan keputusan yaitu:
- Uji Intuisi berhubungan dengan berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking) yang tidak bertanya tentang klaim tapi bertanya tentang prinsip-prinsip yang mendalam.
- Uji halaman depan koran, Agak, berhubungan dengan berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based Thinking) yang mementingkan hasil akhir.
- Uji Panutan / Idola berhubungan dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking), di mana ini berhubungan dengan aturan emas yang meletakkan Anda pada diri Anda pada posisi orang lain.
Bila situasi dilema etika yang Anda hadapi, gagal di salah satu
keputusan tersebut atau bahkan lebih dari satu, maka sebaiknya jangan mengambil
risiko membuat keputusan yang berbahaya atau merugikan diri Anda karena situasi
yang Anda hadapi situasi dilema moral, namun bujukan moral.
Langkah 5
Pengujian Paradigma Benar lawan
Benar.
Dari keempat paradigma berikut
ini, paradigma mana yang terjadi di situasi ini?
- Individu lawan masyarakat
- Rasa keadilan lawan rasa kasihan (keadilan vs belas kasihan)
- Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
- Jangka pendek lawan jangka panjang (jangka pendek vs jangka panjang).
Apa pentingnya mengidentifikasi paradigma, ini bukan hanya mengelompokkan permasalahan namun membawa penajaman pada fokus bahwa situasi ini betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting.
Langkah 6
Resolusi
Dari
3 prinsip penyelesaian dilema, mana yang akan dipakai?
o Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Pemikiran
Berbasis Akhir)
o Berpikir Berbasis Peraturan (Berpikir Berbasis
Aturan)
o Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Pemikiran
Berbasis Perawatan)
Langkah 7
o Investigasi Opsi Trilema
o Mencari opsi yang ada di antara 2
opsi. Apakah ada cara untuk berkompromi dalam situasi ini. Terkadang
akan muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya yang
bisa saja muncul di tengah-tengah kesalahan menyelesaikan masalah
Langkah 8
Buat Keputusan
o Akhirnya kita akan sampai pada titik di mana kita harus membuat yang membutuhkan keberanian moral untuk melakukan keputusan.
o Langkah 9
o Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan
o Ketika keputusan sudah diambil. Lihat
kembali proses pengambilan keputusan dan ambil pelajarannya untuk dijadikan
acuan bagi kasus-kasus selanjutnya.
Disinim CGP dapat mengasah kemampuan dalam pengambilan keputusan melalui beberapa kasus :
Kasus 1 :
Amir adalah siswa kelas 4 yang santun dan memiliki guru Matematika
yang sangat tegas dan keras, bernama Bapak Asep. Suatu hari bapak Asep masuk ke
dalam kelas dan mulai mengajar, tanpa disadari pak Asep ada cabe yang terselip
di gigi pak Asep. Cukup terlihat dan jelas. Semua siswa menyadarinya namun
tidak ada yang berani untuk mengatakan kepada Bapak Asep yang terkenal tegas
dan keras terhadap siswa-siswa tersebut. Sepanjang pembelajaran 2 sesi
tersebut, Bapak Asep terus mengajar dengan sisa cabe di giginya, apa yang akan
lakukan bila Anda adalah Amir, mengapa? Prinsip apa yang akan Anda gunakan?
Kasus 4 :
Kasus 7
Kasus 8
Ina adalah siswa kelas 11. Untuk merayakan kenaikan kelas ke kelas
12, Ina dan beberapa temannya akan berkumpul bersama di rumah temannya dan
menonton film-film drama Korea dari salah satu laptop teman-temannya. Kebetulan
di rumah temannya tersebut, orang tuanya akan pergi seminggu tugas ke luar
kota, jadi Ina dan teman-temannya sangat bergembira bisa mendapatkan kesempatan
untuk bersama di akhir tahun ajaran. Untuk membiayai ‘pesta kenaikan kelas
kecil’ di rumah temannya tersebut, Ina dan teman-temannya sepakat untuk
membayar 100,000,- setiap orang. Ina pun telah memberitahu ibunya bahwa dia
akan menggunakan uang untuk perayaan kenaikan di rumah temannya. Namun ibunda
Ina berubah pikiran karena merasa uang sebesar Rp. 100,000,- bisa digunakan
untuk membayar buku-buku dan seragam Ina di kelas 12 nanti. Akhirnya ibunda Ina
melarang Ina pergi dan meminta Ina untuk menggunakan uang untuk membeli seragam
dan buku-buku sekolah yang diperlukan. Ina rupanya tetap ingin merayakan pesta
kenaikan kelas di rumah temannya, ia pun telah menabung sekian bulan dari uang
jajannya untuk bisa menyisihkan uang 100,000,-. Akhirnya malam itu Ina tetap
pergi ke rumah temannya namun izin untuk bikin tugas kelompok kepada ibunda.
Ina hanya memberitahu adiknya, Zahra bahwa dia sesungguhnya pergi ke rumah
temannya dan menghabiskan uang 100,000,- untuk merayakan kenaikan kelas.
Setelah sekian bulan, ibunda Ina tiba-tiba menanyakan ke Zahra, apakah dia
mengetahui apakah kakaknya telah membayar uang sekolah. Apakah yang akan
dikatakan Zahra, mengapa? Prinsip apa yang diambil?
Kasus 9



















