Simposium AGSI 22-24 Jogyakarta

Para Penari dari siswa siswi Jogyakarta

Dewan Guru SMANSA Biak Kota

Seluruh Bapak Ibu Guru SMA Negeri 1 Biak Kota dan Staf TU

Wisuda SMANSA Biak Kota di Gedung Tongkonan Toraja

Foto Bersama Siswa Siswi Kelas XII IPS 1

Senin, 28 Desember 2020

Peninggalan PD II di Biak Numfor

Salah satu situs peninggalan Perang Dunia II adalah Goa Jepang atau dalam bahasa orang Biak disebut dengan Goa Binsari. Nama yang digunakan sebagai kampung Wisata Binsari diambil dari nama goa "abiab Binsari" yang telah dikenal masyarakat sebelum Perang Dunia II. Goa Binsari dahulu digunakan oleh masyaraat karena terdapat sumber air. menurut kepercayaan masyarakat, goa ini dihuni oleh seorang nenek perempuan sehingga disebut Binsar (artinya perempuan dalam bahasa Biak) dan sar (tua), dimana seorang nenek ini kadang-kadang terlihat dan kadang-kadang tidak terlihat. Karena posisi goa yang sangat strategis berada diketinggian dan dapat melakukan pemantauan untuk didaerah pantai dan laut maka kampung Wisata Binsari menjadi pusat logistik pasukan Jepang pada Perang Dunia II dimana terdapat sebanyak 3000 tentara dibawah pimpinan Nauyoke Kusume Goa Binsari dijadikan markas. setelah Amerika mengetahui bahwa wilayah Binsari merupakan pusat Logistik Jepang, maka Amerika menjatuhkan serangan bom pada 7 Juni 1944.


Konon ceritanya, Awal pendaratannya di Biak pada tahun 1942, dari 10.400 serdadu Dai Nippon pimpinan Kolonel Kuzume Naoyuki dari Infanteri 222 Kekaisaran Jepang yang mendarat di 6 (enam) titik di Pulau Biak, sebanyak 3.000 serdadu Dai Nippon ditempatkan di Goa Binsari yang terletak di Kampung Sumberker, Distrik Samofa, Kabupaten Biak Numfor, yang saat ini familiar dengan sebutan Goa Jepang.

Namun dari sekitar 3.000 serdadu Dai Nippon yang ditempatkan di Goa Binsari ketika itu hanya tersisa 235 serdadu Dai Nippon usai di bombardir tempat persembunyian mereka di Goa Binsari, dimana kemudian Kolonel Kuzume Naoyuki memilih 109 perwira dan bawahan diantaranya guna melakukan serangan Kamikaze sebagai balasan kepada Sekutu, bahkan hingga akhirnya Kolonel Kuzume Naoyuki dan beberapa serdadunya yang tersisa melakukan harakiri (bunuh diri) ketika mereka sudah tidak bisa memberikan perlawanan lagi dari pada harus menyerahkan diri.

Dikutip dari situs Wikipedia tentang pertempuran antara Sekutu dan Jepang di Biak, pasca serdadu Dai Nippon di bumi hanguskan oleh pasukan Sekutu, pada tanggal 22 Juni, Kolonel Kuzume Naoyuki membakar panji-panji kesatuan lalu melakukan harakiri setelah berhasil menyelamatkan Letjen Takuzo Numata, Kepala Staf Komando Pasukan Area ke-2 AD yang sedang berada di pulau Biak dalam sebuah tur inspeksi, yang di evakuasi mengunakan pesawat amfibi dari Teluk Korin pada tanggal 20 Juni.

Dari 3.000 serdadu Dai Nippon yang berada di Goa Binsari ketika itu, hingga kini baru sekitar 850 hingga 1.000 jasad yang berhasil di angkat dan di pulangkan ke Jepang, sedangkan sisanya di duga masih banyak yang tertimbun di dasar Goa Binsari.

Menurut Yusuf Rumaropen selaku Penanggung Jawab dan Pengelola Goa Binsari atau yang terkenal dengan nama Goa Jepang ada sekitar 80-an tengkorak dan kerangka yang berhasil kita kumpulkan dan dilakukan pembakaran oleh pihak pemerintah Jepang di halaman sini, sampai jadi abu, kemudian abu itu mereka bawa pulang ke Jepang

Mengunjungi Goa Jepang yang terletak di jl. Goa Jepang Kampung Sumberker, Distrik Samofa Kabupaten Biak tidaklah susah, bisa menggunakan roda dua (ojek-Red) ataupun roda empat sewaan, dari pusat kota Biak untuk sampai ke lokasi hanya membutuhkan sekitar 10 – 15 menit saja.

Memasuki areal Goa Jepang kita disambut sebuah taman kecil berisi beberapa rongsokan sisa perang yang di kumpulkan oleh pengelola dari area sekitar Goa Jepang maupun dari dalam goa.


Sebuah bangunan sederhana yang di bangun oleh Yusuf Rumaropen, pengelola situs wisata tersebut difungsikan sebagai Pusat Informasi atau Museum Mini yang menyimpan sejumlah artefak peninggalan Perang Dunia II yang pernah terjadi di tempat tersebut.


Beberapa barang peninggalan Jepang maupun Sekutu yang ditemukan keluarga ini di dalam Goa Jepang maupun di areal hutan sekitar goa terlihat di pajang rapi dalam beberapa etalase sederhana.Mulai dari suntikan, pembalut, botol – botol obatan, koin – koin uang baik koin uang Jepang, USA maupun Australia terlihat di jejer rapi dalam etalase. Beberapa perlengkapan makan, peralatan perang bahkan sampai seragam yang digunakan oleh tentara Jepang juga terlihat di pajang dalam sebuah lemari kaca.


Sebelum mendekati bibir Goa Jepang, sebuah monumen kecil dalam pagar ala kadarnya berupa lempengan beton di monument tersebut terukir kalimat, “Memorial Erected in 1956 by the Japanese Government for the Japanese who fell in World War II” yang artinya “Peringatan yang didirikan oleh Pemerintah Jepang untuk orang-orang Jepang yang gugur dalam Perang Dunia II.

Di dalam komplek goa jepang ini sebenarnya ada 3 goa yaitu goa utama yang sering di kunjungi orang yang memiliki 180 anak tangga, dua goa lagi di sisi kiri yang hingga kini tidak pernah di jamah manusia, meski ada beberapa anak tangga menuju ke salah satu goa dimaksud, tetapi kondisinya sangat tidak terurus dan tampaknya tidak pernah di lalui sekian lama.

Stalagtit – stalagtit terlihat kokoh menancap dalam di langit – langit goa memberikan kesan eksotis dan memancing kita untuk berhenti sejenak mengabadikan moment tersebut. Selain kontur goa yang memang memberikan kesan seram, ditambah bayangan bahwa di lokasi tersebut pernah ribuan nyawa terpanggang dan mati terkubur membuat beberapa pengunjung perempuan terlihat agak ketakutan untuk masuk pertama kali.  Memasuki lantai goa, kaki kita akan menjejak lantai tanah yang bercampur dengan bebatuan karang tajam yang tenggelam di dalam tanah dan genangan air sehingga sedikit licin, di salah satu sudut goa terlihat beberapa drum – drum karat yang terlihat lubang di beberapa bagian 

Di dalam goa tersebut terdapat drum – drum berisi BBM waktu itu tentara sekutu sengaja melemparkan puluhan bahkan ratusan drum – drum berisi BBM ke dalam goa dan kemudian menembakinya sehingga terjadi kebakaran dan memanggang hidup – hidup ribuan serdadu Dai Nippon yang bersembunyi di dalam goa tersebut. Memasuki bagian tengah goa dengan panjang sekitar 200 meter membujur dari arah timur ke barat, dimana sisi barat lebih luas ketimbang sisi timur yang arahnya menanjak dan agak terjal hingga mengecil 

Disebelah timur Goa ini sebenarnya dulu adalah jalan menuju ke dua goa lainnya di kompleks yang sama dan menghubungkan lokasi tersebut ke lokasi pendaratan serdadu Dai Nippon di Pantai Paray di Mokmer. Namun di duga karena terkena bom sehingga sisi timur tersebut tertimbun hingga kini, sedangkan sisi barat mengarah ke sebuah lubang besar yang menganga di atas kepala kita dengan diameter 100 meter. Di beberapa sudut goa masih terdapat tumpukan tanah dan batu karang dalam ukuran besar yang sudah di tumbuhi oleh tumbuhan hutan. Salah seorang veteran tentara Sekutu, Letjend Robert L. Eichelberger dalam bukunya Jungle Road to Tokyo yang banyak di kutip oleh beberapa pihak disebutkan bagaimana tentara Sekutu menjadikan Goa Binsari yang adalah goa pertahanan terakhir Kolonel Kuzume Naoyuki dan pasukannya seperti neraka pembantaian, selain di hujani bom, granat, mintak dan PNT hingga 850 pond. Dari beberapa literature yang berhasil di himpun, gua alam Binsari ini selama di kuasai oleh serdadu Dai Nippon pimpinan Kolonel Kusume Naoyuki di gunakan sebagai tempat persembunyian serdadu, pusat logistic dan juga benteng pertahanan Jepang di Biak pada masa perang melawan Sekutu di tahun 1943 – 1945. Dimana untuk membumi hanguskan serdadu Dai Nippon di Goa Binsari ketika itu ditugaskanlah Kolonel Harold Tiegelman, seorang perwira menengah dari pasukan Sekutu yang ahli dalam penggunaan bahan kimia untuk melakukan penyerbuan ke dalam goa. 

Juga dilakukan dengan cara menuangkan drum – drum bensin secara besar-besaran ke dalam gua, lalu di lemparkan bom phosphor hingga bagian dalam goa terbakar, bahkan juga di turunkan mortir ke dalam gua dan juga di ledakkan TNT sebanyak 850 pond yang ditembakkan dengan roket serta bazooka. Pertempuran antara Jepang dan Sekutu ketika itu, karena meski telah di bantai, namun serdadu Dai Nippon pimpinan Kolonel Kusume Naoyuki tidak mau menyerah dan memilih hara-kiri setelah melakukan perlawanan terakhirnya dengan anak buah yang jumlahnya hanya ratusan. 

Menengok dua goa lainnya yang berada di sisi lain dari goa utama, ada sekitar 48 anak tangga dengan pagar terbuat dari kayu yang terlihat sangat rapuh, bahkan di beberapa bagian sudah patah, anak tangga yang di pijak juga sudah tidak terlihat dasarnya karena tertutup oleh daun – daun kering yang menumpak dan akar – akar kayu yang lintang pukang.


Goa diatas menuju ke Pantai Paray di Mokmer, tempat pendaratan serdadu Jepang dahulu, konon kabarnya goa ini tembus ke Goa Lima Kamar yang ada di dekat pantai paray, tetapi karena sudah di bombardir waktu itu makanya kemungkinan di bagian tengahnya tertutup. 

Bila kita melihat dari atas, bagian tengah antara goa kedua dan ketiga adalah sebuah lubang menganga besar yang di duga adalah bekas bom yang dijatuhkan oleh pasukan sekutu sehingga goa tersebut terputus dan saat ini sudah penuh dengan rerimbunan pepohonan.

Masih dikomplek goa Jepang, terdapat bangunan rumah kecil yang didalamnya berisi tengkorak-tengkorak serdadu Jepang. Untuk mengumpulkannya butuh waktu lama, bertahun-tahun untuk membersihkan puing-puing rongsokan dari dalam gua, termasuk juga membersihkan tulang-belulang dan kerangka para korban serdadu Jepang dari dalam goa.

Didepan rumah ini terdapat rongsokan mobil dan puing baling-baling helicopter milik jepang.