Senin, 19 April 2021

Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran 


Secara khusus, modul ini diharapkan dapat membantu Calon Guru Penggerak untuk mampu melakukan praktik keputusan yang berdasarkan prinsip pemimpin pembelajaran, mengidentifikasi jenis-jenis paradigma dilema etika yang
dihadapi oleh dirinya sendiri maupun orang lain; CGP mampu bersikap reflektif, kritis, kreatif, dan terbuka dalam menganalisis dilema tersebut, 
memilih dan memahami 3 (tiga) prinsip yang dapat dilakukan untuk membuat keputusan dalam dilema pengambilan keputusan dan menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang diambil dalam dilema pengambilan keputusan; CGP bersikap reflektif, kritis, dan kreatif dalam proses tersebut.

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, Anda pasti sering dihadapkan dalam situasi di mana Anda diharuskan mengambil suatu keputusan. Namun, seberapa sering keputusan tersebut melibatkan kepentingan dari masing-masing pihak yang sama-sama benar, tapi saling bertentangan satu dengan yang lain?

Bagaimana pengalaman Anda dalam menghadapi situasi seperti ini? Pemikiran-pemikiran seperti apa yang melandasi pengambilan keputusan Anda? Kemudian, setelah mengambil keputusan tersebut, pernahkah Anda menjadi ragu-ragu dan menanyakan diri Anda sendiri apakah keputusan yang diambil telah tepat, ada perasaan tidak nyaman dalam diri Anda, atau timbul pemikiran mengganjal dalam diri Anda seperti, ‘Apakah ini sesuai peraturan?’ atau ‘Bagaimana panutan saya akan berlaku dalam hal seperti ini?’

Prinsip Pengambilan Keputusan

3 prinsip dilemma etika (Rumswoth Kyder)

Tanpa kita sadari kita sdh snagat mengenal/menangani prinisip ini yangs erring kali kita gunakan sampai kita tidak perlu untuk melakukannya, mhkn anda melakukannanya. Saya lakukan Karen itu yang terbaik utk kebanyakan orang yang selanjutnyakita kenal dengan berpikir bebaasis akhir ikuti aturan auran yang ditetapkan (rule based thingking), memutuskan sesuatu.

1.    Prinsip moral berpikir hasil akhir (Ends-Based Thingking)

focus utk mencapai kebaikan utk jumlah orang banyak

Proses berpikir ini berpijak pada aliran utilitarisme yaitu mengerjakan apa yg dapat menghasilkan kebaikan utk jumlah orang banyak. Pemikiran ini senantiasa mengukur /menguji koonsekuensi dari suatu keputusan dengan memperkirakan hasil yang akan diharapkan memberikan kebahagiaan terbaik untuk orang banyak. Prinsip moral berpatokan pada kepentingan intitusi dan bukan kepentingan individu. Pada perkembangannnya prinsip ini mendapat kritik dari kalanagn masyarakat.


Kritik terhadap prinsip ini adalah

“Manusia pada dasarnya tidak bisa mempreiksi semua akbiat/konsekuensi dari setiap keputusan atau tindakan-tindakannya, unutk melihat semua konsekuensi dari perilaku seorang individu saja belum tentu bisa, lebih-lebih konsekuensi dari tindakan sebuah masyarakat”

Contoh :

Saat manusia membangun reactor nuklir apakah mereka memikirkan bagaimana sebaiknya pembuangan limbah dari reactor nuklir tersebut .



2.     Prinsip  Berpikir Berbasis peraturan Rule based thingking

Bagi para Ahli fisafat ini selalu disebut dengan prinsip Deontologis yang berasal dari bahasa yunani “Deon” yang berarti tugas atau kewajiban. Sehingga Prinsip dilema etika ini bukan berpusat pada konsekuensi atau hasil akhir namun berpusat pada apa tugas kita apa kewajiban yang patut akan kita lakukan. Seseorang akan bertindak sesuai peraturan yang berlaku dan orang tersebut menginginkan orang lain bertindak sesuai dirinya.

Kritik terhadap prinsip ini adalah :

“pada penerapannya, prisnip ini dianggap berlaku terlalu kaku dan mengabaikan keberagaman individualitas manusia. Bahwa mereka tidak terlalu memperdulikan hasil yang akan didapat namun lebih focus kepada prinsip atau ukuran dasar yang diyakini. Selalu berpatokan pada “sudah menjadi tugas atau kewajiban”






Dengan demikian bisa jadi peraturan itu sendiri yang salah secara prinsip, sehingga ketika seseorang menggunakan pengambilan keputusan berdasarkan peraturan dia sedang melakukan kesalahan ganda.

Contoh :

bagaimana  jika seorang anak telah diwajibkan  kepada orang tuanya dan dialarang keluar utnuk alasan apapun. Namun bagaimana jika hari itu hujan deras dan melihat ayahnya naik motor dan terjatuh di depan motor. Bagaimana anak tersebut apa yang akan dilakukannya, apakah akan membiarkan ayahhnya dan membairkannya tanpa ada yang membantu?

3.     Berpikir berbasis rasa peduli(Care-Based Thingking)

Prinsip ini dikenal sebagai aturan emas dan telah memainkan peran kunci dalam pembelajaran dihampir semua pengajaran budaya dan agama. Untuk selanjutnya prinsip ini memainkan peran kunci pada pendidikan etika, lebih penting lagi berpikir berbasis rasa peduli selain memberikan batasan-batasan pada tindakan kita namun juga mendukung agar diri kita memikirkan kepentingan orang lain. Prinsip ini banyak melibatkan empati seseorang terhadap pihak lain. Seandianya saya sada diposisi dia apa yang akan saya lakukan.

Kritik terhadap prinsip ini adalah

“prinsip ini terllau sederhana untuk dianggap sebagai salah satu prinsip etika yang utama. Prinsip ini tidak memberikan pilihan khusus atau menunjan nilai-nilai kebajikan yang dieal. Prinsip ini gagal memberikan contoh kebajikan, seandainya situasinya melibatkan kedua belah pihak yang sama-sama melakukan tindakan yang kurang terpuji.”

Contoh prinsip ini :

Dua sahabat yangs sama sama menyonetk di tes. Salah satu ditanya oleh guru apakah melihat sahabantnya menyontek? Berpikir bahwa saya tidak akan mengadukan sahabat saya sehingga tidak berkata dengan jujur karena dengan beranggapan sahabtanya tidak akan mengadukannya


Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, Anda harus memastikan bahwa keputusan yang Anda ambil adalah keputusan yang tepat. Oleh karena itu perlu dilakukan pengujian untuk melihat apakah keputusan tersebut telah sesuai dengan prinsip-prinsip dasar pengambilan keputusan secara etis.

9 langkah Pengambilan Keputusan

Di bawah ini adalah 9 langkah yang telah disusun secara berurutan untuk memandu Anda dalam mengambil keputusan dalam situasi dilema etika yang luar biasa karena adanya beberapa nilai-nilai yang bertentangan.

Langkah 1.

Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.

Ada 2 alasan mengapa langkah ini adalah langkah yang penting dalam pengujian keputusan. Alasan yang pertama, langkah ini mengharuskan kita untuk mengidentifikasi masalah yang perlu diperhatikan, alih-alih langsung mengambil keputusan tanpa yang lebih saksama. Alasan kedua adalah karena langkah ini akan membuat kita menyaring masalah yang betul-betul berhubungan dengan aspek moral, bukan masalah yang berhubungan dengan sopan santun dan norma sosial. Untuk terima kasih hal ini hal yang mudah. Kalau kita terlalu berlebihan dalam menerapkan langkah ini, dapat membuat kita menjadi orang yang terlalu mendewakan aspek moral, sehingga kita akan mempermasalahkan setiap kesalahan yang paling kecil pun. Malah jika kita terlalu permisif, maka kita bisa menjadi apatis dan tidak bisa memahami aspek-aspek permasalahan etika lagi.  

Langkah 2.

Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

Bila kita telah menyatakan bahwa masalah moral dalam situasi tertentu. Pertanyaannya adalah dilema siapakah ini? Hal yang tidak pantas diterbitkan apakah pertanyaan ini dilema saya atau bukan. Karena dalam masalah moral, kita semua seharusnya merasa terpanggil.

Langkah 3

Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

Pengambilan keputusan yang baik membutuhkan data yang lengkap dan detail, seperti misalnya apa yang terjadi di awal situasi tersebut, bagaimana hal itu terkuak, dan apa yang akhirnya terjadi, siapa yang berkata apa pada siapa, kapan mereka mengatakannya. Data-data tersebut penting untuk kita ketahui karena dilema etika tidak, hal-hal yang bersifat teori, namun ada faktor-faktor pendorong dan penarik yang nyata di mana data yang mendetail akan bisa menggambarkan alasan seseorang melakukan sesuatu dan kepribadian seseorang akan memahami situasi tersebut . Hal yang juga penting di sini adalah analisis terhadap hal-hal apa saja yang potensial akan terjadi pada waktu yang akan datang.

Langkah 4

Pengujian benar atau salah

o    Uji Legal

Pertanyaan yang harus diajukan disini adalah apakah dilema etika itu berurusan dengan hukum. Bila jawaban adalah iya, maka pilihan yang ada yang ditulis antara lawan benar, namun antara lawan salah. Pilihannya menjadi keputusan yang mematuhi hukum atau tidak, keputusan yang berhubungan dengan moral.

o    Uji Regulasi / Standar Profesional

Bila dilema etika tidak memiliki aspek keselamatan hukum di dalamnya, mungkin ada peraturan atau kode etik. Konflik yang terjadi pada seorang wartawan yang harus melindungi sumber beritanya, seorang agen real estate yang tahu bahwa seorang calon pembeli potensial sebelumnya telah dihubungi oleh koleganya? Anda tidak bisa melakukan karena melanggar kode etik profesi Anda, tapi Anda akan kehilangan respek sehubungan dengan profesi Anda.

o    Uji Intuisi

Langkah ini mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi Anda dalam merasakan apakah ada yang salah dalam situasi ini. Apakah tindakan ini mengandung hal-hal yang akan membuat Anda merasa dicurigai. Uji intuisi ini akan mempertanyakan apakah tindakan ini sejalan atau berlawanan dengan nilai-nilai yang Anda yakini. Walaupun mungkin Anda tidak bisa dengan jelas dan langsung menunjuk permasalahannya ada di mana. Langkah ini, untuk banyak orang, sangat umum dan dapat diandalkan untuk melihat dilema etika yang melibatkan dua nilai yang sama-sama benar.

o    Uji Halaman Depan Koran

Apa yang Anda akan rasakan bila keputusan ini dipublikasikan pada halaman depan dari koran dan sesuatu yang Anda anggap merupakan ranah pribadi Anda tiba-tiba menjadi konsumsi masyarakat? Bila Anda merasa tidak nyaman membayangkan hal itu akan terjadi, kemungkinan besar Anda sedang menghadapi dilema etika.

o    Uji Panutan / Idola

Dalam langkah ini, Anda akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh seseorang yang merupakan panutan Anda, misalnya ibu Anda. Tentunya di sini fokusnya keputusan yang diambil pada ibu Anda, namun apa yang kira-kira akan beliau ambil, karena beliau adalah orang yang menyayangi Anda dan orang yang sangat berarti bagi Anda.

Yang perlu diambil dari kelima uji keputusan tadi, ada tiga uji yang sejalan dengan pengambilan keputusan yaitu:

  • Uji Intuisi berhubungan dengan berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking) yang tidak bertanya tentang klaim tapi bertanya tentang prinsip-prinsip yang mendalam.
  • Uji halaman depan koran, Agak, berhubungan dengan berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based Thinking) yang mementingkan hasil akhir.
  • Uji Panutan / Idola berhubungan dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking), di mana ini berhubungan dengan aturan emas yang meletakkan Anda pada diri Anda pada posisi orang lain.

Bila situasi dilema etika yang Anda hadapi, gagal di salah satu keputusan tersebut atau bahkan lebih dari satu, maka sebaiknya jangan mengambil risiko membuat keputusan yang berbahaya atau merugikan diri Anda karena situasi yang Anda hadapi situasi dilema moral, namun bujukan moral.

Langkah 5

Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.

Dari keempat paradigma berikut ini, paradigma mana yang terjadi di situasi ini?

  1. Individu lawan masyarakat 
  2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (keadilan vs belas kasihan)
  3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) 
  4. Jangka pendek lawan jangka panjang (jangka pendek vs jangka panjang). 

Apa pentingnya mengidentifikasi paradigma, ini bukan hanya mengelompokkan permasalahan namun membawa penajaman pada fokus bahwa situasi ini betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting.

Langkah 6

Resolusi

Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, mana yang akan dipakai?

o    Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Pemikiran Berbasis Akhir)

o    Berpikir Berbasis Peraturan (Berpikir Berbasis Aturan)

o    Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Pemikiran Berbasis Perawatan)

Langkah 7

o    Investigasi Opsi Trilema

o    Mencari opsi yang ada di antara 2 opsi. Apakah ada cara untuk berkompromi dalam situasi ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di tengah-tengah kesalahan menyelesaikan masalah

Langkah 8

Buat Keputusan

o    Akhirnya kita akan sampai pada titik di mana kita harus membuat yang membutuhkan keberanian moral untuk melakukan keputusan.

o    Langkah 9

o    Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

o    Ketika keputusan sudah diambil. Lihat kembali proses pengambilan keputusan dan ambil pelajarannya untuk dijadikan acuan bagi kasus-kasus selanjutnya.

      Disinim CGP dapat mengasah kemampuan dalam pengambilan keputusan melalui beberapa kasus :

  

Kasus 1 : 

kasus 2 : 
 
Kasus 3 :

Amir adalah siswa kelas 4 yang santun dan memiliki guru Matematika yang sangat tegas dan keras, bernama Bapak Asep. Suatu hari bapak Asep masuk ke dalam kelas dan mulai mengajar, tanpa disadari pak Asep ada cabe yang terselip di gigi pak Asep. Cukup terlihat dan jelas. Semua siswa menyadarinya namun tidak ada yang berani untuk mengatakan kepada Bapak Asep yang terkenal tegas dan keras terhadap siswa-siswa tersebut. Sepanjang pembelajaran 2 sesi tersebut, Bapak Asep terus mengajar dengan sisa cabe di giginya, apa yang akan lakukan bila Anda adalah Amir, mengapa? Prinsip apa yang akan Anda gunakan?

Kasus 4 :


Kasus 5 


Kasus 6



Kasus 7



Kasus 8

Ina adalah siswa kelas 11. Untuk merayakan kenaikan kelas ke kelas 12, Ina dan beberapa temannya akan berkumpul bersama di rumah temannya dan menonton film-film drama Korea dari salah satu laptop teman-temannya. Kebetulan di rumah temannya tersebut, orang tuanya akan pergi seminggu tugas ke luar kota, jadi Ina dan teman-temannya sangat bergembira bisa mendapatkan kesempatan untuk bersama di akhir tahun ajaran. Untuk membiayai ‘pesta kenaikan kelas kecil’ di rumah temannya tersebut, Ina dan teman-temannya sepakat untuk membayar 100,000,- setiap orang. Ina pun telah memberitahu ibunya bahwa dia akan menggunakan uang untuk perayaan kenaikan di rumah temannya. Namun ibunda Ina berubah pikiran karena merasa uang sebesar Rp. 100,000,- bisa digunakan untuk membayar buku-buku dan seragam Ina di kelas 12 nanti. Akhirnya ibunda Ina melarang Ina pergi dan meminta Ina untuk menggunakan uang untuk membeli seragam dan buku-buku sekolah yang diperlukan. Ina rupanya tetap ingin merayakan pesta kenaikan kelas di rumah temannya, ia pun telah menabung sekian bulan dari uang jajannya untuk bisa menyisihkan uang 100,000,-. Akhirnya malam itu Ina tetap pergi ke rumah temannya namun izin untuk bikin tugas kelompok kepada ibunda. Ina hanya memberitahu adiknya, Zahra bahwa dia sesungguhnya pergi ke rumah temannya dan menghabiskan uang 100,000,- untuk merayakan kenaikan kelas. Setelah sekian bulan, ibunda Ina tiba-tiba menanyakan ke Zahra, apakah dia mengetahui apakah kakaknya telah membayar uang sekolah. Apakah yang akan dikatakan Zahra, mengapa? Prinsip apa yang diambil?


Kasus 9



Kasus 10


Salam guru penggerak 
salam guru-guru hebat
salam Merdeka Belajar

Pendamping CGP Kab. Biak Numfor
cc. Srikandi Dwi Poncowati, S.Pd., M.M



0 komentar:

Posting Komentar