Selasa, 15 September 2020

"BELAJAR DALAM MENGAJAR"

 Selasa, 15 September 2020

KULIAH UMUM SESI 2 PEMBATIK LEVEL 4 

BUTET MANURUNG : "BELAJAR DALAM MENGAJAR" 



Butet Manurung salah sat aktivis perempuan yang sangat luar biasa, pendiri Sokola Rimba dan masih banyak lagi sokola-sokola yang sudah di dirikannya. 
sokola rimba adalah sekolah yang berada di Rimba Bukit Duabelas Jambi, dimana masyarakat adat orang rimba peburu, peramu sudah hidup damai tanpa masalah selama ratusan tahun. Pendidikan di orang rimba justru malah kontektual
Sistem pendidikan Lokal 
  • Sistem pendidikan sudah kontekstual, bayangkan anak rimba yang hafal ratusan mamalia, jejak, obat kalau digigit, perangkapnya, siklus hidupnya, belum lagi semua binatang lain, serangga, reptil, dsb, ribuan tanaman, kontur tanah, juga kecakapan hidup, bertahan hidup di rimba, membaca tanda alam atau bencana, obat tradisional, mantra, pengetahuan adat, norma dan kepercayaan, dsb. 

Literasi~Bukan Hanya Melek Huruf Tetapi Melek Masalah Juga

Kebanyakan masyarakat adat dan pedalaman melihat pendidikan sebagai alat untuk memecahkan masalah mereka dengan tetap menjunjung adat istiadat, cinta kampung halaman, bukan meraih gelar tinggi dan mendapatkan gaji yang besar. “sekolah lengkap” adalah pendidikan yang paling tepat untuk anak-anak kami. Ia berpengetahuan luas tapi juga menguasai kecakapan di kampung” Rato Kedukuri, Sokola Sodan, Sumba

Metode Hadap masalah 

Dimulai dari memperkenalkan persoalan. Bahkan bisa diterapkan sejak belajar baca=tulis-hitung. Misalnya melalui kosakata saat belajar membaca, atau dikte saat belajar menulis.

Kepercayaan Orang Rimba Jambi

Kami percaya bahwa setiap masyarakat bukanlah entitas kosong atau tak berdaya. Mereka punya seperangkat pengetahuan dan kecakapan hidup yang operasional terhadap sekitarnya. Masyarakat adat hidup secara berkelanjutan dan berkecukupan selama ratusan tahun dengan mengandalkan pengetahuan tradisionalnya tersebut. Semakin banyak komunitas yang tidak mandiri justru di zaman sekarang ini. Jika kita mau membantu, hendaklah pengetahuan tersebut sifatnya sebagai pengetahuan TAMBAHAN yang melengkapi (yang complimenting), bukan yang menyingkirkan pengetahuan yang sudah ada, Tujuan setiap manusia adalah kemampuan untuk menentukan nasib sendiri dengan memastikan pilihan-pilihan tersedia (self-determination ~ UU Desa). 
  


METODE SOKOLA 
DI MULAI 2013


MENGAPA SISTEM SOKOLA FORMAL TIDAK COCOK DI BEBERAPA TEMPAT ?
  • Sekolah formal tidak mengajarkan kemampuan yang sesuai dengan kondisi/potensi sekitarnya.
  • Sekolah Formal tidak mengakomodir cara belajar lokal dan sifat alamiah yang dinamis di alam bebas
  • Sekolah Formal tidak (ajar) mengatasi persoalan kehidupan dan perubahan sekitar murid (setan bermata runcing)
  • Sekolah Formal tidak (belajar) merespon persoalan kehidupan dan perubahan sekitar anak (setan bermata runcing)
  • Sekolah Formal tidak mengakomodasi nilai dan kebenaran versi lokal

ISTILAH “SEKOLAH UNTUK PERGI” 

Adanya Anggapan bahwa: semakin tinggi tingkat pendidikannya, semakin besar kemungkinan seseorang meninggalkan kampung halamannya dan adat-istiadatnya. Karena ia semakin jauh dengan realitas sekitarnya

ISU SEPUTAR PERKEMBANGAN LITERASI DI DAERAH 
  • Masyarakat adat dalam angka: ada sekitar 50-70 juta masyarakat adat di Indonesia (aman.or.id) 
  • Setidaknya 26% penduduk tinggal di dalam (2,48%) dan di sekitar kawasan hutan (23,42%) (Survey Kehutanan 2014). 
  • Angka buta huruf di Indonesia 1,78% yaitu 3.053.353 orang, propins dengan presentasei terbesar adalah Papua 21,9%, NTB 7,46% dan NTT 4,24% (beritasatu.com) 
  • Dari jumlah orangnya, yang tertinggi adalah Jawa Timur (1,450,000 - BPS tahun 2015), disusul Jawa Barat. 
  • Geliat komunitas literasi di Indonesia lebih menyasar minat baca, angka buta huruf dan yang “membaca lambat atau tidak paham text” banyak. 
  • Lebih dari itu, literasi seharusnya menjadi “pemelek masalah”
Prinsip GURU HUMILITY (human, humus, humble) EDUCATION (e dan ducares=membebaskan) Belajar dulu sebelum Mengajar Guru punya tanggung jawab sosial selain mengajar. Mengajar itu sarana pendidikan, bukan tujuan!


Setiap program literasi harus lolos tahap “ yang dilakukan dalam prinsip-prinsip antropologi. ● Sejarah Huruf: 22 huruf Hiroglif di Mesir, 2700 SM. Huruf latin (ALphabet) bangsa Semit 2500 thnlalu, berasal dari huruf piktograph (paku), konsonan sebagai awal kata. ● Ingat, huruf itu produk impor. Tidak semua masyarakat harus bisa baca-tulis. Kita ingin bisa baca-tulis karena SUDAH/merupakan bagian dari umat yang bisa baca-tulis, itu menjadi syarat dasar untuk bertahan hidup (survive). ● Baca-tulis mau tidak mau harus dikuasai oleh komunitas saat mereka sudah “terganggu” oleh dunia luar, agar bisa berkomunikasi dan memahami aturan main dunia luar. ● Literasi dasar juga menjadi sarana bagi guru untuk mempelajari bahasa lokal. 



Bahasa Nusantara. Kita punya banhak sekali bahasa dan simbol, ada juga tradisi lisan. Semuanya memiliki keistimewaan. Orang Rimba memiliki huruf R yang Uvular trill, seperti R orang Perancis. Orang Batak tidak bisa bilang e pepet (e pada penat) bisanya e taling (e pada sate). Orang Sunda punya ejaan “eu” yang harus diwakilkan dengan dua vokal huruf latin padahal dalam huruf Pallawa hanya dalam satu huruf saja.. Dari sudut fonologis, penyukuan tidak selalu konsisten/universal, karena ada pengaruh budaya (apa yang dimakan, bahasa) dan geografis suatu masyarakat. Misalnya Orang Rimba bilang Sungay 🡪Sungas, , Orang Sunda bilang Fakultas 🡪Pakultas, Orang Makassar bilang Makan 🡪 Makang. Bukan tidak bisa tapi terbalik-balik. Orang Rimba: Tas → Etay, Ban → Eban. Atau: Bapak saya--→ Sa pu Bapak (Kupang), 

Penyelenggaraan Baca Tulis Metode Silabel (suku kata) 

Metode baca tulis yang dipakai Sokola adalah metode Suku Kata (Silabel) yang berfokus pada keunikan fonetik suatu daerah, FONOLOGI Kajian tentang bunyi dalam bahasa yang diproduksi oleh alat ucap manusia. Etimologinya: phono = bunyi dan logos = ilmu. Ini adalah ilmu yang paling cocok dalam mempelajari keragaman bahasa (fonetik) di Indonesia. ● Fonemik: mempelajari fonem (vokal, konsonan, dll). Ejaan fonemis misalnya:: /rela/, /menyapa/, /warung/, /pojok/ ● Fonetik: menyelidiki fon (bunyi) dari sudut pandang tuturan pembahasanya. Ejaan fonetis misalnya [rɜla], [mǝñapa], [warUƞ], [pOjOʔ] Jadi, pertama-tama, selidiki seluruh ejaan fonetis yang ada di suatu daerah dan imbuhan nya (sufiks, infiks, prefiks, konfiks), dsb. Sebelum mengajar baca-tulis dan selama mengajarkannya, kita mempelajari bahasa mereka. Barudak ‘beberapa anak’ (Sunda), Bubudak ‘beberapa anak’ (Rimba) 

RISET KEKHUSUSAN FONETIK

Menggali kekhususan fonetis: bunyi huruf apa saja yang tidak bisa/susah dilafalkan oleh peserta. Kehomorganan: konsonan yang dihasilkan oleh alat ucap dan tempat artikulasi yang sama: p dengan b, t dengan d, c dengan j, serta k dengan g, sering terjadi karena dihasilkan alat ucap yang sama. Kekhususan Fonetis Di Mumugu Batas Batu, Papua: - A H K - B P D - J C Y - T C D - L R Contoh: Pada Penulisan BAKU – PAKU – DAKU Pada penggunaan huruf di awalan (BPD) seringkali dibunyikan sama dalam ucapan , meskipun ada perbedaan dalam huruf. Mereka menganggap penggunaannya sama







1. LITERASI DASAR
Kelompokkan berdasar suku kata, Masukkan dalam klasifikasi metode 1-16. Metode ini dapat membuat seorang anak menguasai baca-tulis dalam 1-2 minggu.















Mengajarkan kesadaran kritis dan kepekaan sosial sejak dini

 “Name the Word, Name the World” 




2. Literasi Terapan

a. Penguatan identitas kultural oleh pemuka lokal (Wawasan kerimbaa
b. Pengetahuan dunia luar dan akses fasilitas atas hak warga negara (Wawasan dunia luar)


3. Pendidikan yang mendukung Advokasi
a. Kaderisasi dan Pengorganisasian
b. Networking, berjaringan dengan pihak yang relevan






Pendidikan harus kontekstual berdampak,

artinya berkontribusi dalam kehidupan. Orang Rimba bertanya “Sungai di Jakarta kok kotor? Bukannya Orang di Jakarta sekolah semua?” “Pintar fisika tapi gak bisa benerin setrika rusak, itu aneh” “Kenapa justru di depan sekolahan banyak plastik, bukankah plastik itu buruk unyuk lingkungan?”


Sokola institute 2013, di 16 lokasi, beneficiaries 15.000 orang, 100 volunter guru yang live in minimal 2 tahun, mengajar dalam dialek dan kebiasaan setempat, mendisain kurikulum literasi-advokasi bersama masyarakat berdasar kebutuhan dan persoalan mendasar mereka.


“Sekolah harus memberi manfaat untuk kehidupan, untuk saat ini, bukan di masa depan. Karena jika kita memelihara hari ini, kita memelihara masa depan” Orang Rimba

KEBERAGAMAN ADALAH KEKUATAN

Pakai pendekatan emik (metode etnografi kritis) dalam memahami keberagaman/sudut pandang lokal. Pahami perbedaan tolak ukur “bahagia/sukses/kemajuan/peradaban” antara standar negara (atau orang kota) dengan orang desa atau masyarakat adat. Lalu adopsi sudut pandang lokal itu sebagai visi dalam gerakan literasi suatu komunitas. ● Penyeragaman kurikulum dan tolak ukur, akan menghasilkan penyeragaman kecakapan, yang dapat mengancam kemandirian komunitas dan ketahanan negara. Penyeragaman akan mengancam pengetahuan dan kecakapan lokal yang beragam.. ● HATI-HATI dalam membawa buku bacaan!! 

Menghadapi bonus demografi di tahun 2045

  • Literasi yang mendukung pembangunan yang berpihak (berbasis kebutuhan lokal) dan partisipatif, harus difokuskan pada infrastruktur (melengkapi suprastruktur) yang menjawab kebutuhan lokal Pendidikan kontekstual adalah kunci, yang mengakomodasi budaya lokal, membantu menyelesaikan persoalan lokal dan menguatkan potensi daerah masing-masing 
  • Jangan sampai sekolah kita menjadi “Sekolah Untuk Pergi”

“Context shape content, not the other way around



Semoga bermanfaat ....

0 komentar:

Posting Komentar