Jumat, 18 September 2020

"Merdeka Belajar"

Belajar dari Filosofi Pendidikan KHD

Pendidikan adalah tempat bersemayamnya benih-benih kebudayaan. Ada konektivitas antara pendidikan dengan kebudayaan. Untuk mewujudkan kebudayaan yang kita cita-citakan atau peradaban yang kita dambakan, pendidikan adalah pondasinya. Pekerjaan dalam Pendidikan bukan sekedar soal anak pergi kesekolah, ujian dengan nilai baik dan sebagainya tetapi pekerjaan untuk menjemput kebudayaan yang kita cita-citakan, dengan kata lain ini pekerjaan untuk membentuk peradaban.

Inti dari filsafat pendidikan Ki Hajar Dewantara adalah perubahan. kebudayaan tidak boleh statis harus bergerak dalam upaya memelihara kebudayaan bagi ki hajar harus terus bergerak sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. pendidikan juga sama tidak boleh statis, pendidikan harus bergerak sesuai zamannya. Dalam kebudayaan tidak ada yang sama, dan tidak bisa disamakan, ketika terjadi pertukaran kebudayaan bukan untuk disamakan tapi untuk menguatkan identitas dari masing-masing kebudayaan. Dalam filosofi ki Hajar sumbunya kebudayaan adalah Nilai-nilai kemanusiaan. Esensinya menurut ki Hajar adalah nilai-nilai kemanusian dan ini berlaku baik itu di Indonesia maupun negara-negara didunia. Pendidikan pun juga sama, anak tidak pernah ada yang sama, fitra dari penciptaan dari Yang maha kuasa adalah keberagaman. Menurut Ki Hajar Dewantara, biarkanlah anak memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Ibarat planet yang bergerak dengan kecepatannya masing-masing dan ini bergerak sesuai kecepatanya masing masing sesuai  orbitnya masing-masing, semua bergerak sesuai dengan sumbu yang sudah diatur begitu juga dengan anak, semua tidak bisa di paksakkan.

Relevansi pemikiran-pemikiran Ki Hajar terhadapTransformasi pendidikan sekarang. 

Filosofi Ki Hajar adalah Filosofi perubahan dan dalam hal ini ada 3 kerangka perubahan Ki Hajar, pertama Kodrat keadaan dimana kodrat keadaan ini ada 2 yaitu kodrat alam (menyangkut alam, tempat dimana masyarakat itu berada) yang membentuk sebuah kebudayaan kebiasaan sebuah masyarakat dan kodrat zaman (masing-masing zaman memiliki tantangan sendiri-sendiri); kedua, prinsip melakukan perubahan yang mengacu pada asas trikon a. Kontinuitas (menjaga nilai utama masyarakat), b. konvergensi (perubahan yang kita lakukan harus menuju titik yang memperkuat nilai-nilai kemanusiaan) pendidikan harus memanusiakan dan memperkuat kemanusiaan kita, c. konsentris (walaupun menujupada nilai-nilai yang sama tetapi kita tetap mengharagai keragaman yang ada. karena itu pendidikan harus mengharagai keunikan karena itu juga pendidikan harus memerdekakan. ketiga , apa yang berubah yaitu Budi Pekerti, Budi itu cipta (pikiran), rasa (perasaan) dan karsa (kemauan) dan pekerti itu raga / tenaga. Dalam filosofi pendidikan Ki Hajar ketiga hal tersebut harus seimbang dalam perubahan. Ada olah cipta menajamkan pikiran, olah rasa mengaluskan perasaan dan olah karsa memperkuat kemauan dan olag raga menyehatkan jasmani, sehingga pendidikan itunharus holistik. seimbang tidak bisa timpang dan ini akan membawa pada ksempurnaan budi pekerti yang membawa pada kebijaksanaan. 

Pemahaman saya terkait dengan pendidikan yang memerdekakan adalah pendidikan dimana anak dapat belajar bersama diberikan kesempatan untuk menemukan dan menentukan tujuan belajarnya sesuai kodrat mereka. Tujuan belajar setiap anak harus kontekstual dengan jati dirinya dan kondisi lingkungannya serta masyarakat tempatnya berada. Pendidikan yang memerdekakan memberikan ruang yang luas-luasnya kepada anak dan juga pendidik, anak yang diberikan ruang kebebasan untuk mengeksplore segala apa yang dimilikinya dan yang ada dilingkungan sekitar, diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan pemikirannya untuk mencari solusi atau masalah. Sedangkan dari segi guru, guru dapat mengembangkan ide-ide pembelajarannya atau program-program-program kritisnya dengan tetap mengacu pada Kurikulum yang berlaku serta prinsip humanis dan juga memperhatikan hal serta keunikan anak. Pendidikan yang memerdekakan juga merupakan pendidikan yang segala daya upaya untuk memerdekakan aspek lahiriah dan batiniah manusia. Tujuan utama pendidikan adalah untuk membentuk para peserta didik menjadi pribadi-pribadi yang berbudi pekerti luhur. Dengan demikian, mereka mampu mengendalikan ego diri yang sombong / pongah dan serakah, mampu menolak segala godaan yang menjerumuskan kehidupan, dan senantiasa hidup secara beradab dalam relalitas sosialnya. dan itu adalah hidup yang berperikemanusiaan. Dengan demikian peradaban yang lahir dapat diisi oleh orang-orang atau manusia-manusia yang memiliki budi pekerti yang luhur, watak dan kakarakter yang baik. 

Prinsip yang lebih saya yakini terkait dengan pendidikan yang memerdekakan adalah prinsip keteladanan dan prinsip kesedarajatan. Prinsip keteladanan mengapa saya yakini disini sebagai pendidik harus menjadi teladan atau contoh terlebih dahulu di hadapan siswa, jika guru menyuruh siswa untuk melakukan sesuatu yang baik tetapi kita sendiri sebagai guru tidak melakukan sama saja bohong. Dengan teladan-teladan baik yang kita perlihatkan kepada siswa dapat memotivasi atau mendorong siswa untuk mengikutinya atau menirunya. Sedangkan Prinsip kesedarajatan mengapa juga saya yakini, karena dalam pendidikan yang memerdekakan kita memberikan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student center), pembelajaran yang sesuai dengan kriteria dan keunikan peserta didik masing-masing. Dimana pembelajaran ditengah lingkungan yang penuh dengan keanekaragaman dan multikultural harus dilandasi dengan kesederajatan, artinya apa bahwa pandangan kita memandang keanekaragaman dan keunikan adalah sama berada pada kedudukannya. Perbedaan bukan untuk dipertentangkan tetapi perbedaan harus menjadi sumber kekuatan untuk membangun kolaborasi & kerjasama dalam menciptakan inovasi-inovasi dan kreatifitas anak serta guru menuju perubahan pendidikan yang jauh lebih baik dan tentunya Menjadi "Merdeka Belajar"

0 komentar:

Posting Komentar